Kamis, 02 November 2017

Cerpen Karangan

Siapa

Cerpen Karangan: 
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 1 November 2017
Lagi-lagi ada yang menaruh hadiah di mejaku. Aku sangat dibuat penasaran. Siapa yang selalu memberiku hadiah setiap hari, ada saja sekotak hadiah dan tak lupa ada secarik surat yang isinya ‘semoga kamu suka’ terkadang aku sangat dibuat bingung sendiri siapa yang memberikannya! Padahal tak ada yang dekat denganku awalnya aku berpikir jika Riko yang memberikan hadiah itu, tapi dugaanku salah bukan dia yang memberikannya lalu siapa? Itulah yang saat ini masih berkecamuk dalam hatiku. Siapa dan siapa? Apakah ada orang lain yang sayang padaku karena dia tak mau aku tau maka dia memberiku ini, tapi untungnya bagi dia apa?
Gunawan orang bertubuh jangkung kembali menghadangku, ya dia memang orang yang ya sangat digemari dan paling diidolakan di sekolah ini terkecuali aku. Aku ada alasan mengapa aku tak menyukainya sedikitpun. Yang jelas ada sesuatu hal yang membuatku merasa tak ingin mengenalnya lebih jauh lagi dan cukup tahu aja.
Dia tergolong cowok yang sangat aktif dan pintar tapi, kepintarannya itu tak dimanfaatkan dengan baik, yang paling membuatku jengkel adalah ketika ada orang yang meminta bantuannya dia hanya diam. Seakan-akan tak mau peduli. Ya itulah dia hanya mementingkan dirinya sendiri.
Aku berjalan melewati Gunawan yang tengah asyik dengan kegiatannya pagi ini. Tak ada sapaan atau pun ucapan yang keluar dari mulutnya itu, ya… aku tau dia memang pintar dan pintar juga cuekin orang. Tatapan matanya kini tertuju ke arahku, aku bingung dengan tatapan matanya yang sedikit berbeda dari biasanaya. Lebih lekat menatapku seakan-akan kedua bola matanya itu tak mau berpaling ke arah yang lainnya. Ada apakah ini, apakah ini hanya perasaanku ataukah aku yang terlalu kegeeran?

“Hei tembem makan di kantin yuk” ucap Riko seakan membangunkanku dari lamunan yang kuanggap tak ada gunanya ini.
“Makan? Sekarang?”
“Ya iyalah, tenang aku yang akan traktir kamu ok.” Aku tersenyum mendengar perkataannya.
“Mau makan apa?”
“Apa aja deh yang penting aku kenyang,”
“Apa aja? Gimana kalau batu! Nanti kamu akan tahan deh kenyangnya.” Aku dibuat terkejut akan jawabannya itu, mataku melirik dan memandanginya dengan tajam.
“Haha… nggak kok aku cuma bercanda, gitu aja kaget.” Begitulah Riko selalu bisa membuatku tersenyum dalam keadaan dan situasi apa pun. Dan akhirnya lama-kelamaan rasa itu ada, rasa sayang antara adik dan kakak. Tak banyak yang tau kedekatan kami berdua ada yang bilang jika kami berdua ini berpacaran padahal antara aku dan Riko tak ada hubungan apa apa.
Dan lagi dan lagi hadiah itu kembali muncul setelah beberapa hari tak ada. Kali ini bukan kado tapi sepucuk surat yang isinya ‘kamu tau kamu telah menyakiti aku tembem. Kamu tak pernah tau apa yang selalu aku rasakan. Aku sayang kamu tapi kamu? Ya kamu seakan-akan tak peduli dengan adanya aku. Kita berdekatan tapi tak saling menyapa. Kita berjauhan tetapi saling pandang. Ya baiknya aku pergi dan melepaskan rasa cintaku, walau itu tak akan pernah mungkin. Kutunggu kamu di taman sore ini.’ Lagi lagi tak ada pengirimnya. Aku bingung siapa yang lagi-lagi memarahiku lewat tulisannya ini.
Aku sangat dibuat penasaran dengan siapa pengirimnya. Dan ku putuskan untuk ke taman sore ini. Hatiku seakan berdebar-debar siapa yang telah menuliskan surat itu, di taman sangat sepi hanya ada dua orang laki-laki dia adalah Riko dan aku bingung siapa yang berada di kursi roda. Aku menatap dengan perlahan dan akhirnya aku baru menyadari jika oang yang bersama dengan Riko adalah
“Gunawan!”
Riko melirikku “Gunawan.” “Mila”
“Kamu telah menerima suratnya kan?” Aku dibuat bingung, jangan-jangan.
“Aku yang menulisnya agar kamu datang kemari. Jangan salah paham dulu, memang aku yang menulis surat itu tapi bukan aku yang mengirimkan hadiah itu.”
“Kalau bukan kamu siapa?” Tanyaku penasaran. Riko menatap Gunawan yang hanya diam tanpa kata.
“Gunawan kenapa? Kenapa dia hanya diam?”
“Dia memang sudah lama seperti ini dan ya kamu tau kan kenapa dia, menghilang tanpa jejak dan tak memberimu kado lagi?”
“Kamu bilang apa tadi? Kado? Jadi dia yang…”
“Iya, dia yang selalu memberimu hadiah. Tapi aku mohon satu kali ini saja. Temanilah dia untuk terakhir kalinya.” “Maksudmu” aku tak mengerti mengapa Riko mengatakan hal yang sedemikian. Seakan-akan Gunawan akan pergi jauh saja.
Tanpa memberiku alasan Riko segera meninggalkanku bersama dengan Gunawan.
“Kamu masih bingung dengan semuanya ya. Aku tau memang aku terlalu bodoh. Bagimu memang aku terlalu angkuh bahkan sombong. Tapi aku selalu memberikanmu apa yang tak pernah kau duga. Kamu tau aku ingat saat kamu ada di toko liontin. Saat itu kamu inginkan membelinya. Ya aku memang hanya melihatmu dari kejauhan dan aku bingung kebapa kamu tak jadi membelinya. Ya aku segera langsung saja membelinya dan ya memberikannya setelah aku telah,”
“Telah apa? Jangan bilang kalau waktu itu kamu hampir kutabrak dan,”
“Ya memang saat itu aku terburu-buru menaruhnya. Dan bodohnya kamu masih saja tak menyadari semuanya. Aku pikir kamu hanya pura-pura dan ternyata kamu memang nggak nyadar. Aku memang diam dan ya. Kamu tau kenapa ya aku bisa suka sama kamu padahal kamu itu, biang onar suka dimarahin guru, tukang tidur dan ya suka disuruh bersihin wc.” Aku hanya tersenyum mendengar apa yang ia ketahui tentang diriku.
“Ih… kamu tau dari mana?”
“Itu nggak penting. Ya aku senang bisa melihatmu dari dekat seperti ini tapi sayang, aku tak bisa melihatmu lebih lama lagi. Aku mau disaat terakhirku aku bisa melihat senyumanmu, yang selalu tak kan pernah bisa kuhapus dari memoriku.”
“Kamu ini bicara apa?”
“Kamu tak mengerti apa artinya kamu bagiku. Tapi kamu itu jauh lebih berarti dari pada segalanya. Dan waktuku untuk tidur pun telah datang aku ingin kamu…”
“Apa? Bilang saja.” Aku seakan dibuat hanyut oleh kata-katanya.
“Bolehkah aku memelukmu?” Aku bingung apa yang ada di pikiranku, aku memeluknya seakan takut kehilangannya. Aku seakan mendapat kehidupan baru rasanya aku tak ingin melepaskannya. Aku seakan tak ingin dan tak mau kehilangan dirinya. Tapi tuhan berkata lain. Gunawan orang yang paling membuatku kesal telah pergi tuk selama-lamanya. Dan semuanya kini telah terkubur setelah perlahan-lahan rasa itu mulai ada alam hatiku.
Cerpen Karangan: Sri Ambar
Facebook: Sri ambar
Cerpen Siapa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.
"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen Karangan

Siapa Cerpen Karangan:  Sri Ambar Kategori:  Cerpen Cinta Sedih Lolos moderasi pada: 1 November 2017 Lagi-lagi ada yang menaruh hadi...